Monday, February 19, 2018

Kali ketiga

Malam ini..
Ketiga kalinya aku menemukan keraguan dalam jawabanmu.
Setiap kali aku menanyakan tentang hubungan kita dan orangtua mu,
Aku selalu bisa melihat ada kata yang tak kau sebutkan,
Ada kalimat yang tak mampu kau jawab.

Mengapa?
Karena ternyata orangtua mu tak bisa menerimaku jika aku ternyata tak bisa seperti yang mereka harapkan?
Karena ternyata kehidupan keluargaku berbeda dengan keluargamu?
Atau karena hanya kau yang sebenarnya terlalu takut membedakan diri?

Tak apa sayang..
Ini bukan kali pertama untukku.
Tapi setidaknya aku pernah membicarakannya.
Aku pernah menemukan jalan keluarnya.
Lalu kenapa kau tak ingin membicarakannya?

Sayang, ingatlah tak semua keluarga memiliki kehidupan yang sama
Tak semua orangtua mendidik dengan cara yang sama
Setiap orang memiliki pilihan hidup yang berbeda
Meskipun aku tau, tak semua orang juga dapat menerima apa yang berbeda dengan mereka.

Tapi kau harus tau bahwa pada akhirnya aku yang paling kecewa jika kau tak mampu mempertahankan semua yang telah kau janjikan
Aku yang terus menunggu kepastian darimu.
Menjalankan semua ini tanpa tau apa akhirnya.
Meskipun aku tau pada akhirnya hanya tuhan yang menentukan.
Tapi setidaknya itu cerita lain. Setidaknya kita telah berusaha.

Sayang, maaf jika aku egois. Tapi aku tak ingin membuang waktuku jika akhirnya semua ini berakhir hanya karena hal yang sudah kita tahu sebelumnya.

Thursday, February 1, 2018

Hujan dan Senja yang Terasa Lama

Satu-satunya hal yang bisa memperlambat waktu adalah rindu.

Jarak telah membuat kita semakin jarang bertemu. Jarak telah menghadirkan ruang-ruang sepi di dada kita. Kamu dan aku bahkan seringkali merasa sendiri saat berada dikeramaian pesta. Aku mencari-cari kamu dikepalaku, membawa kamu kemana saja aku pergi. Sesekali aku mendatangi tempat-tempat yang sering kita kunjungi, hanya untuk mempercepat waktu, hanya untuk memastikan kita akan segera bertemu.

Hujan juga datang membawa pulang kehangatanmu dikepalaku. Sementara tubuhku harus tabah menikmati dinginnya waktu. Namun, demi semua hal yang sudah kita sepakati akupun mengerti, aku harus sabar menanti. Aku harus memperjuangkan apa-apa yang kumiliki. Kamu memiliki aku, aku memiliki kamu. Dan segala hal yang terjadi kini hanyalah bagian dari perjuangan yang akan kita nikmati nanti. Aku belajar menyabarkan hati, bahwa perasaan lelah ini tidak akan sia-sia, bahwa segala rindu yang terasa akan menemukan bahagia pada waktunya.

Meski tetap saja setiap senja datang atau setelah hujan kembali pulang, kamu adalah seseorang yang kadang menjadi alasanku tidak mampu menahan perasaan. Rasa sesak di dada kadang seringkali tidak terlendalikan. Dan air mata kadang menjadi hujan-hujan yang kusembunyikan. Aku tahu ini berat, tapi bukan alasan untuk melepaskan apa-apa yang telah kita ikat. Aku tahu rindu itu kadang terasa pilu, tetapi bukan alasan menjadikan kita sebagai masa lalu.

Kelak, pada senja-senja yang tak lagi sepi, kamu adalah seseorang yang kupeluk erat sepenuh hati. Tidak akan ada lagi jarak yang menakut-nakuti. Bila saat itu tiba, aku berharap waktu tetap saja melambat bersama kita. Agar aku bisa menatap matamu berlama-lama. Agar aku bisa menikmati senja juga hujan-hujan yang pernah membuatku merindu buta. Semoga hal yang kita jalani kini, seberat apapun usaha menjaga hati tidak hanya menjadi lelah yang tak berarti.

-Boy Chandra, Senja, Hujan dan Cerita yang Telah Usai

Awal Mula Kita

Hari ini setahun yang lalu.. Aku baru saja membuka pintu kamarku saat layar ponsel ku menyala dan terlihat notifikasi pesan darimu. Kau se...