Thursday, March 8, 2018

Akhir (part 2)

Kau terlalu naif sayang
Kau berpura-pura tak melihat hal buruk yang ada di depanmu hanya untuk membuat dirimu senang.
Bahkan ketika seluruh dunia mengatakan buruk, kau tetap menolaknya. hanya untuk dirimu sendiri.

Mungkin memang semuanya salahku..
Aku yang memaksakan diri untuk berasamamu sedari awal kita bertemu
Padahal jelas kau bukan apa yang aku inginkan.
Aku yang selalu berharap lebih bahwa kau bisa berubah
Padahal jelas segala yang kau lihat hanyalah dirimu sendiri.
Aku yang tak berani melepaskanmu
Padahal jelas kehidupan kita berbanding terbalik.

Atau mungkin..
Memang kau yang terlalu kekanak-anakan
Memang kau yang belum siap menjalani hubungan selayaknya orang dewasa
Memang kau tak tau bagaimana caranya menjalin suatu hubungan.

Ketika aku berfikir mengenai kita hingga 10 tahun kedepan, kau hanya mampu berfikir 1-2 tahun kedepan.

Apa pernah kau berfikir bagaimana jadinya kita nanti?
jika terus berselisih paham
Apa pernah kau berfikir bagaimana jadinya kita nanti?
jika terus berbeda prinsip
Apa pernah kau berfikir bagaimana jadinya kita nanti?
jika segala yang kau lakukan bergantung pada keluargamu sedangkan keluargaku tak pernah mengatur inginku
Apa pernah kau berfikir bagaimana jadinya kita nanti?
jika kau tak pernah berfikir panjang tentang segala hal

Sayang,
Aku tak pernah mempersalahkan sifatmu yang kau atau mereka sebut cuek, tidak peka, polos.
Aku tak pernah mempersalahkan saat kita berbeda prinsip.
Aku tak pernah mempersalahkan saat kita berbeda kepercayaan.
Yang aku pedulikan hanya jika semua itu menghancurkan hubungan kita.

Dan akhirnya semua itu terjadi.
Saat aku berfikir bahwa kepolosanmu. Prinsipmu. kepercayaanmu. Takkan mungkin menghancurkan kita
Nyatanya hari ini..
Kita hancur berkeping-keping tak lagi bisa diselamatkan karena segala perbedaan kita.
Karena pada akhirnya kau hanya akan selalu menganggap benar apa yang kau percayai selama ini.

Akhir (part 1)

Akhirnya berakhir sudah segala cerita tentang kau dan aku.
Takkan lagi ada perdebatan karena perbedaan yang menjulang tinggi antara kita.
Takkan ada lagi tangis diantara kita.
Karena sesungguhnya aku pun sudah tak bisa lagi menangis atau marah,
yang ada hanyalah kecewa.

Sayang..
bukan aku tak lagi mencitaimu,
Tapi disaat aku mati-matian mengubur segala hal buruk tentangmu, tentang hubungan kita,
kau justru mati-matian menarik keluar segala hal buruk tentangku, tentang hubungan kita.
Disaat aku mati-matian membangun hubungan kita, kau justru mati-matian merusak segalanya.
Disaat aku mati-matian menyelamatkan apa yang tersisa diantara kita, kau justru mati-matian membuang segalanya.

Akhirnya aku sadar..
Tak ada gunanya lagi mempertahankan kita, jika segala yang kau pikirkan hanyalah kamu.
Takutmu.
Senangmu.
Sakitmu.
Hingga saat terakhir aku memberimu kesempatan, yang kau pikirkan masihlah dirimu.

Tak mau bertepuk sebelah tangan, jawabmu.
Sia-sia lah sudah segala yang sudah kita bangun selama ini.
Sia-sia lah sudah segala yang sudah aku pertahankan selama ini.
Hanya karena egomu yang tak ingin berjuang seorang diri.

Lalu apa kau pikir yang aku lakukan selama ini?
Berulang kali memaafkanmu
Melawan logikaku sendiri
Tak pernah berhenti bercerita tentang apa yang baik untuk kita.
Seperti perempuan bodoh yang tak bisa mencari penggantimu.
Padahal kau tak pernah mengerti.

Awal Mula Kita

Hari ini setahun yang lalu.. Aku baru saja membuka pintu kamarku saat layar ponsel ku menyala dan terlihat notifikasi pesan darimu. Kau se...