Aku tidak bisa tidur meskipun aku berusaha untuk memejamkan mataku. Kamu ada di langit-langit kamarku, semakin membesar di dadaku, berlalu-lalang di otakku. Aroma tubuhmu selalu menyeruak setiap kali aku berusaha mengusir sosokmu dari sini. Aku merasa semua tidak lagi adil ketika aku merindukanmu. Tidak adil karena aku tidak bisa segera memelukmu. Tidak adil karena aku tidak bisa langsung menatap wajahmu. Tidak adil karena aku tidak mampu memastikan bahwa di sana kamu baik-baik saja.
Aku berbaring di tempat tidurku, sambil mendengarkan lagu bee gees, how deep is your love, lagu yang pertamakali kau berikan padaku saat kita sarapan bubur bersama. Aku merasa kamu sungguh ada di sampingku, sedang memperhatikanku dengan mata sayumu. Seandainya, di sampingku sungguhlah dirimu, aku tidak akan berpikir dua kali untuk memelukmu. Seandainya, kamu benar ada di sini, aku ingin mengajakmu bertengkar soal pembicaraan kita mengenai akhir yang bagus untuk kisah cinta kita.
Aku rindu menatapmu tertawa dengan sangat lapang, sehingga membuatku cukup bahagia karena beberapa saat kaulupakan sedihmu. Aku rindu dekapan di bahumu, dihangatnya dadamu, ketika aku meminta mengartikan suatu kalimat bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Aku rindu dahi wifimu yang terbentuk ketika kamu sedang memikirkan semua jawaban atas semua pertanyaanku. Aku rindu caramu berpakaian, jaketmu, tas kepongpongmu. Aku rindu semua yang ada dalam dirimu dan seandainya ego tak membuat jarak diantara kita, mungkin saat ini aku tak perlu menuliskan semua ini.
Seandainya kamu sedang di sampingku, maukah kau bercerita tentang pekerjaanmu, seperti biasanya? Seandainya kamu berada dalam pelukku, maukah kau bercerita tentang kehidupanmu selama tak ada aku? Seandainya kamu ada di sini, maukah kamu menyuapiku beberapa buah stroberi dari minumanmu, dan menemaniku menuntaskan rindu yang makin parah ini? Seandainya kamu ada di sampingku, maukah kau memelukku dengan sangat rapat, kemudian berjanji tidak akan pergi lagi?
Katakan padaku, bahwa semua hal indah yang kita lewati selama dua tahun ini hanyalah sebuah mimpi anak ingusan pada pria dewasa-- yang mustahil untuk menjadi miliknya. Katakan padaku, bahwa caramu membuatku tertawa itu hanyalah rasa belas kasihan karena kamu tahu bahwa aku perempuan yang rela menyakiti oranglain hanya untuk memilihmu. Katakan padaku, bahwa caramu membuatku bahagia itu hanyalah bualan untuk membuatku merasa tetap optimis pada hidup yang selalu terlihat jahat di mataku. Katakan padaku bahwa kamu tidak mencintaiku. Buatlah aku membencimu, sehingga aku tidak perlu merasakan rindu sesakit ini.
Jika kehadiranmu dalam hidupku untuk membuatku jatuh cinta, kamu sudah berhasil melakukan misimu. Harusnya memang tidak perlu ada cinta di antara kita. Tetapi, caramu menatapku itu sungguh luar biasa, dan aku tidak bisa menolakmu masuk ke dalam hatiku. Karena tiba-tiba kamu bertahta, sekuat dan sehebat itu, hingga aku tidak tahu cara mengantisipasi rasa sakit kalau suatu saat aku terpisah darimu.
Aku tidak tau apa maksudmu saat kau begitu cemburu melihatku berjalan dengan lelaki lain. Aku tidak tau apa maksudmu menyuruhku, memaksaku untuk selalu kembali padamu. Aku tidak tau apa maksudmu memberikan pelukan hangat padaku, jika pada akhirnya kau kembali mengacuhkanku. Meninggalkanku Untuk kesalahan yang sama.
Aku masih berbaring di tempat tidurku, sementara bee gees masih mengalun dengan damai. Izinkan aku memutar ulang waktu, agar tidak pernah terjadi pertemuan antara kita, agar aku tidak pernah tahu rasanya jatuh cinta padamu, agar aku tidak merindukan hangat pelukmu.
No comments:
Post a Comment